Sebab Turunnya Rezki
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
Allah memberikan jaminan bahwa hamba-hamba-Nya pasti akan sukses serta mendapatkan akses rezki dari berbagai sumber, asalkan mengetahui sebab-sebab turunnya rezki tersebut.
Di antara sebab-sebab yang melapangkan rezki adalah, pertama, karena takwa kepada Allah. Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. Ath-Thalaq : 2-3).
Allah SWT juga berfirman, Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7] :96).
Fitnah Jabatan
Ali Farkhan Tsani *
Suatu ketika Khalifah Utsman bin Affan mengutus duta ke negeri tetangga untuk menjalin hubungan bilateral. Umi Kaltsum isteri khalifah menitipkan minyak wangi melalui duta tersebut untuk diserahkan kepada isteri raja negeri tetangga yang dituju. Sepulang dari kunjungan, utusan khalifah membawa bingkisan hadiah titipan isteri raja tetangga berupa mutiara untuk isteri khalifah.
Melihat kiriman itu Khalifah Utsman langsung menyita hadiah permata itu dan menetapkannya sebagai hak milik Baitul Maal. Seraya Khalifah menegur, “Kalau kau bukan isteri khalifah tak mungkin kau akan menerima bingkisan ini!
Isterinya menjawab, “Bukankah yang kuterima ini adalah hadiah balasan pribadi dari isteri raja?” “Benar. Tetapi urusan kirim-mengirim telah menggunakan fasilitas dan utusan kekhalifahan,” ujar khalifah.
Lanjut Khalifah Utsman, “Aku khawatir perkara ini akan menimbulkan fitnah! Lihat isteri Khalifah, menggunakan kesempatan dan fasilitas jabatan untuk kepentingan pribadi! Aku juga khawatir caramu itu akan ditiru oleh isteri-isteri pejabat yang lain!”.
Kedudukan Harta
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (QS Al-Humazah / 104 : 1-9).
Kedudukan harta (amwal) yang berada pada manusia di permukaan bumi ini adalah titipan dari Allah SWT. Sebagai suatu titipan, manusia pemegang harta wajib mensyukuri, menjaga, dan memanfaatkannya sesuai dengan ketentuan-Nya.
Kelak pada Hari Pembalasan Allah SWT menuntut pertanggungjawaban titipan itu. Firman-Nya, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS At-Takatsur / 102 : 8).
Agama itu Nasihat
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
Begitu pentingnya nasihat, hingga Rasulullah SAW menandaskan, “Agama itu adalah nasihat.” Kami (para sahabat) bertanya, “Untuk siapa Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh umat Islam.” (HR Muslim).
Dari hadist tersebut dapat kita hayati bahwa memberi dan menerima nasihat berlaku untuk segenap manusia, siapapun orangnya, apapun jabatannya, tanpa terkecuali. Nasihat berdasarkan Allah dan Rasul-Nya berlaku untuk para pemimpin umat Islam dan untuk masyarakat pada umumnya. Karena semuanya adalah manusia yang tidak luput dari lupa dan salah.
Menjadi Hamba Bersyukur
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab sedang melaksanakan ibadah thawaf, beliau mendengar seseorang berdoa di samping Baitullah yang terdengar aneh. Bunyinya, “Ya Allah, masukkanlah hamba ke dalam golongan yang sedikit”. Usai tawaf Umar menemui orang tersebut dan bertanya maksud doanya itu. Orang itu menjawab, “Tidakkah engkau membaca Al Quran, ‘Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur?‘”. (QS Saba / 34 : 13).
Mendengar jawaban itu, Sang Khalifah menepuk kepalanya sendiri sambil berkata kepada dirinya sendiri, “Wahai Umar, alangkah bodohnya engkau, orang awam saja lebih mengerti daripada dirimu.”
Apa yang diingatkan oleh seseorang kepada Umar menunjukkan bahwa hamba-hamba yang bersyukur kepada Allah SWT memang jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan manusia justru ingkar kepada Sang Pencipta. Tidak jarang manusia mengadakan semacam kontrak politik dengan Tuhannya bahwa kelak dirinya akan bersyukur kepada-Nya jika lulus dari suatu ujian atau sukses dalam suatu kegiatan. Namun setelah lulus dan sukses, ia malah mengingkari janjinya sendiri.
Petunjuk Allah
Oleh : Ali Farkhan Tsani
“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.
Melalui ayat ini orang-orang beriman diperingatkan oleh Allah SWT agar jangan sampai mengikuti ajakan atau ajaran yang akan mengembalikan kepada kekafiran. Tetapi justru diperintahkan untuk selalu berpegang teguh kepada agama Allah, yakni Islam yang lurus. Yakni agama Islam yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah dan penutup nabi-nabi.
Firman Allah, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS Al-Ahzab : 41 ).
Istighfar sebagai Solusi
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Syeikh Hasan Al-Bashri mengadu tentang kondisi alam lingkungan yang mulai gersang akibat pemanasan global. Lalu, Syeikh memberikan solusi jawaban, ”Perbanyaklah istighfar kepada Allah!’. Pada hari yang lain, seseorang juga mengadu kepada Syeikh Al-Bashri mengadukan tentang meningkatnya kemiskinan di masyarakat negerinya. Maka, beliau pun memberikan solusi jawaban, “Perbanyaklah istighfar kepada Allah!’ Hari berikutnya, datang lagi yang lain menemuninya seraya minta didoakan agar dirinya segera dikaruniai seorang anak. Lagi-lagi beliau menjawab, “Perbanyaklah istighfar kepada Allah!’
Mendengar ketiga pengaduan tersebut dan demi mendengar pula solusi jawaban yang sama atas ketiganya, Rabi’ bin Shabih bertanya kepada Syeikh. “Wahai Syeikh, beberapa warga datang menemui Syeikh mengadukan bermacam-macam perkara mereka. Syeikh hanya memerintahkan mereka semua untuk memperbanyak istighfar kepada Allah.
Hidup adalah Perjuangan
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran : 91).
Asbabun Nuzul ayat ini adalah bahwa suatu ketika ada sebagian dari umat Islam yang suka bershadaqah dengan buah kurma yang jelek-jelek yang tak termakan oleh mereka sendiri. Riwayat lain menyebutkan bahwa ada seorang lelaki memetik buah kurmanya, kemudian dipisahkannya yang baik-baik dari yang buruk-buruk. Ketika datang orang yang meminta shadaqah diberikannyalah yang buruk itu. Maka ayat ini turun mencela perbuatan itu. Setelah ayat itu turun, sahabat Nabi Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin menshadaqahkan kebunku karena Allah”. Kemudian Rasulullah menasehatinya agar kebun tersebut dishadaqahkan untuk kepentingan orang-orang fakir miskin.
Wasiat Takwa
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
Pada setiap kesempatan khutbah Jumat, khatib senantiasa menyampaikan wasiat kepada para jamaah shalat untuk meningkatkan takwa kepada Allah. Takwa menjadi wasiat abadi karena mengandung kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi terwujudnya kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Takwa merupakan kumpulan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan takwa, seorang mukmin akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah.
Firman Allah, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS An-Nahl / 16 : 128).
Nabi Muhammad SAW pernah memberikan wasiat, “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya akan dapat menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR At-Tirmidzi).
Prioritas Hidup
Oleh : Ali Farkhan Tsani *
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q.S. At-Taubah: 24).
Pada ayat lain, Allah berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadid: 20).
-
Recent
-
Links
-
Archives
- October 2010 (15)
- March 2010 (7)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS